Obatobatan emergensi tersedia dimonitor aman bilamana disimpan di luar farmasi. Salam sukses SEDIA DOKUMEN AKREDITASI PUSKESMAS TERBARU. Proses perencanaan dilakukan dengan memperhitungkan pemakaian selama 18 bulan ditambahkan 20 nya untuk buffer stock dan waktu tunggu obat. Puskesmas Danurejan II juga menyediakan pelayanan ambulanceG. INOVASIUPAYA KESEHATAN PERORANGAN 1. Program SMART - SMART Card - SMART Service - SMART Corner - SMART Survey 2. Puskesmas Sahabat Anak - Media dan Materi KIE Anak - Ruang Pelayanan dan Ruang Konseling Anak (MTBS & PKPR) - Ruang Tunggu dan Bermain - Ruang ASI - KTR - KTPA - Santun Lingkungan Puskesmas - Sarana dan Prasarana Anak Disabilitas a. PuskesmasDiminta Inovasi dalam Optimalkan Pelayanan Kesehatan. Seorang warga lanjut usia (lansia) menjalani pemeriksaan tensi darah sebelum vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Purnama, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (3/3/2021). Sebanyak 17.803 warga lansia menjadi sasaran dalam vaksinasi COVID-19 di Kalbar. Pemasangan spanduk di instansi pemerintahan . 7. POLI GIGI. KAPE PAGI (Kartu Petunjuk Setelah Pencabutan Gigi) - Pencetakan kartu petunjuk setelah pencabutan gigi - Mengedukasi pasien secara langsung - Memberikan kartu petunjuk setelah pencabutan gigi kepada setiap pasien yang telah melakukan pencabutan gigi. 8. FARMASI SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) menambah inovasi di puskesmas yang tersebar di 31 kecamatan. Inovasi ini merupakan layanan yang diberikan MAUMERE- Menerapkan tiga program inovatif dan meningkatkan kualitas pelayanan kepada pasien, menghantarakan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Lekebai, Kecamatn Mego, Kabupaten Sikka meraih peringkat Madya dalam akreditasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI pada 2017. 38fmbzL. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. "Masa depan tidak ada yang tau, Tetapi masa depan bisa di prediksi, melalui tindakan nyata yang bermakna hari ini dan disini". Orientasi penugasan khusus Tim Nusantara Sehat di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan DTPK adalah membawa perubahan positif di puskesmas penempatan, terutama menggagas program-program inovasi yang menyentuh langsung tentang permasalahan kesehatan di masyarakat. Tim Nusantara Sehat Puskesmas Sapala kabupaten Hulu Sungai Utara Kalimantan Selatan adalah satu dari ratusan tim Nusantara Sehat penugasan khusus dari kementerian kesehatan, terus bergeliat dan bekerja untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pelosok, dalam hal ini masyarakat Sapala melalui program edukasi dan inovasi. Tim Nusantara Sehat Puskesmas Sapala yang terdiri dari Hermansyah tenaga Farmasi, Adil Nirwandi tenaga kesehatan lingkungan, Retno Suci Wulandanni Tenaga perawat dan Sumiati Tenaga Bidan yang bulan Agustus ini genap 2 dua tahun mengabdi di puskesmas Sapala, dimana sejauh ini begitu intens memberikan edukasi dan penyuluhan, baik dengan pendekatan ceremonial atau formalitas, maupun dengan pendekatan ada banyak hal yang telah dilakukan selama hampir 2 dua tahun mengabdi di puskesmas Sapala, namun yang masih tergiang dikepala dikalangan tenaga kesehatan kabupaten Hulu Sungai Utara dimana tenaga Nusantara sehat puskesmas Sapala pada bulan April lalu menjuarai tenaga kesehatan terbaik dalam kategori tenaga kesehatan teladan dan penggagas program inovasi tingkat kabupaten Hulu Sungai Utara yang di umumkan secara tertulis oleh dinas kesehatan kabupaten Hulu Sungai Utara propinsi Kalimantan Hermansyah tenaga Farmasi NS mendapat predikat terbaik 2 dua untuk tenaga kesehatan teladan dan program inovasi kefarmasian, sedangkan Adil Nirwandi tenaga Kesling NS mendapatkan predikat terbaik 1 satu kategori tenaga Kesling teladan dan program inovasi kesehatan lingkungan, walaupun berpartisipasi di tahun ke 2 dua dan bersaing dengan tenaga kesehatan senior di 12 dua belas puskesmas lingkup kabupaten Hulu Sungai Utara, namun tenaga Tim Nusantara Sehat Puskesmas Sapala tetap mampu bersaing dan mendapatkan hasil memuaskan. Foto Adil Nirwandi kiri dan Rusdiani Pendamping saat menunggu giliran presentasi. Adil Nirwandi tenaga kesehatan lingkungan NS melaju sampai penilaian tenaga kesehatan teladan dan program inovasi tingkat propinsi, yang mana tepatnya pada hari Rabu tanggal 26 Juni 2019 lalu, Adil Nirwandi bersama dengan rombongan dinas kesehatan kabupaten Hulu Sungai Utara bertolak ke Banjarmasin untuk Penilaian dan presentasi makalah program inovasi yang di gagas. Proses penilaian dan presentasi yang dilakukan di hotel Aria Barito Banjarmasin, Adil Nirwandi mendapat kesempatan presentasi urutan ke-2 dua dari 8 delapan peserta tenaga kesehatan lingkungan yang mewakili kabupaten masing-masing se-Kalimantan Selatan, setelah presentasi PPT dan pemaparan makalah program di hadapan tim juri propinsi, Adil menuturkan,"Tidak mengalami masalah yang berarti, lancar saja, walaupun sedikit deg-deg kan dan grogi pada awal-awal, karena dalam forum yang berbeda, namun bisa diatasi, dan Alhamdulillah bisa dilewati", tutur pemuda asli kabupaten Gowa Sulawesi Selatan membanggakan adalah, pada tahun 2019 ini, puskesmas Sapala mendelegasikan 2 dua orang tenaga kesehatannya untuk mewakili kabupaten Hulu Sungai Utara dalam penilaian tenaga kesehatan teladan dan program inovasi Tingkat Propinsi, yaitu ke-2 kategori tersebut meliputi bidang kesehatan lingkungan dalam hal ini Adil Nirwandi tenaga Kesling Nusantara Sehat dan Indera Kasuma tenaga Promosi kesehatan.Selain itu, yang menarik pada Penilaian dan presentasi program inovasi yang menjuarai tingkat kabupaten dan menembus sampai pada tingkat propinsi adalah didominasi oleh program inovasi Tim Nusantara Sehat Puskesmas Sapala, Mas-Tobat Masyarakat Sadar Obat mendapat predikat 2 dua tingkat kabupaten, yang di gagas oleh Hermansyah tenaga Farmasi Nusantara Sehat, Lisa-Abil Lihat Sampah Ayo ambil program inovasi Adil Nirwandi Tenaga Kesling Nusantara Sehat, Tobacco Free Rumah bebas Asap rokok dan Senam Triple's senam berkelas yang dipresentasikan oleh Indera Kasuma merupakan program gagasan Tim Nusantara Sehat, selain dari program Gentong Mas Santun Gerakan Tolong masyarakat Sanitasi Tuntas yang lahir dari inovasi Indera Kasuma sendiri. 1 2 Lihat Healthy Selengkapnya Seorang warga lanjut usia lansia menjalani pemeriksaan tensi darah sebelum vaksinasi COVID-19 di Puskesmas Purnama, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu 3/3/2021. Sebanyak warga lansia menjadi sasaran dalam vaksinasi COVID-19 di Kalbar. PONTIANAK-Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtonomeminta puskesmas-puskesmas di wilayahnya mengoptimalkan pelayanan kesehatan bagi Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat 11/3/2022. Ia mengatakan puskesmas yang bangunannya sudah bagus seperti UPT Puskesmas Alian yang di Kelurahan Sungai Bangkong, Kecamatan Pontianak Kota, harus meningkatkan pelayanan. Saat mengunjungi Puskesmas Alian yang di Jalan Pangeran Natakusuma, Wali Kota mengatakan bahwa puskesmas sebaiknya memasang rambu-rambu alur pelayanan untuk memudahkan warga yang hendak berobat."Dengan petunjuk-petunjuk yang jelas, masyarakat atau pasien yang datang berobat tidak lagi kebingungan harus ke mana," katanya. Ia mengemukakan pentingnya inovasi pengelola Puskesmas untuk memudahkan warga mengakses pelayanan kesehatan, misalnya dengan menyediakan aplikasi mengenai informasi pelayanan kesehatan. Selain itu, ia mengatakan, kepala puskesmas dan seluruh petugas puskesmas harus memastikan warga mendapat pelayanan kesehatan yang optimal."Sehingga masyarakat yang datang ke puskesmas ini mendapatkan pelayanan yang baik dan memuaskan," katanya. Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu mengatakan bahwa Puskesmas Alian yang menyediakan pelayanan kebidanan dasar dan memiliki ruang rawat persalinan dengan lima tempat tidur."Di Puskesmas Alianyang ini juga terdapat pelayanan fisioterapi, yang mana pelayanan itu baru dua puskesmas yang menyediakannya," katanya. Sidiq berharap Puskesmas Alian bisa menjadi puskesmas unggulan."Kita harapkan inovasi-inovasi yang sudah pernah diraih oleh Puskesmas Alianyang ini terus dikembangkan," katanya. sumber antaraBACA JUGA Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Klik di Sini inovasi dari puskesmas-puskesmas tersebut beragam, tak hanya soal layanan jemput bola atau pemeriksaan kesehatan dari rumah ke rumah yang banyak dilakukan terutama sejak pandemi ANTARA - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives CISDI memberikan penghargaan kepada tiga puskesmas terpilih yang telah melakukan inovasi guna meningkatkan layanan kesehatan bagi masyarakat. Chief Strategist sekaligus Plt. Chief of Primary Health Care PHC CISDI Yurdhina Meilissa mengatakan, penghargaan-penghargaan tersebut sebagai bukti bahwa puskesmas sebagai fasilitas layanan kesehatan primer yang paling dekat dengan masyarakat ternyata bisa membuat terobosan-terobosan yang bermanfaat bagi masyarakat. "Layanan kesehatan primer sering kali identik dengan bahwa puskesmas cuma bisa mengobati pusing, keseleo, masuk angin. Posisinya paling dekat dengan kita semua. Tapi karena terlalu dekat, terlalu banyak, jadi kadang-kadang tidak ada yang memperhatikan dan tidak identik dengan inovasi," ujar Yurdhina dalam acara peringatan Satu Dekade Pencerah Nusantara yang digelar hibrida, diikuti secara daring dari Jakarta, Sabtu. "Padahal, Pencerah Nusantara dalam sepuluh tahun terakhir menjadi saksi bahwa ada banyak sekali inovasi di lapangan yang tidak banyak yang tahu. Inovasi yang kami belajar darinya sehingga itu bisa kami replikasi dan kami sebarkan lebih jauh lagi," lanjutnya. Sebagai informasi, Pencerah Nusantara merupakan program yang dijalankan CISDI sebagai upaya untuk mengurangi kesenjangan pelayanan publik di bidang kesehatan. Dalam sebulan terakhir, Yurdhina mengatakan pihaknya mencari inovasi-inovasi yang sudah berjalan di puskesmas di seluruh Indonesia. Hasilnya, ada 40 karya inovasi yang terkumpul dari berbagai daerah termasuk Riau, Kalimantan, Sulawesi, bahkan Papua. Ia juga mengatakan inovasi dari puskesmas-puskesmas tersebut beragam, tak hanya soal layanan jemput bola atau pemeriksaan kesehatan dari rumah ke rumah yang banyak dilakukan terutama sejak pandemi COVID-19. "Ada soal peningkatan gizi, ada soal kesehatan ibu dan anak, pelibatan orang muda, sampai inovasi yang fungsinya merangkul orang-orang yang selama ini aksesnya terbatas pada layanan kesehatan," katanya. Ia melanjutkan, 40 karya yang sudah terkumpul kemudian dikurangi menjadi 12 besar. Setelah itu, dewan juri pun memutuskan tiga puskesmas dengan inovasi terpilih. Ketiga puskesmas itu adalah Puskesmas Cakung Jakarta Timur dengan inovasi Madu Besi Masyarakat Peduli Pembekalan Farmasi, Puskesmas Cluwak Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dengan aplikasi DISAPPU Digital Skrining Awal Penyakit Paru, dan Puskesmas Tagulandang Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara dengan inovasi pelayanan kesehatan ibu dan anak Munadia Si Mama Mempersiapkan Ibu. Adapun yang bertindak sebagai juri adalah Administrator Kesehatan Ahli Madya Direktorat Pelayanan Kesehatan Primer Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan dr. Wing Irawati, Administrator Kesehatan Ahli Muda/PMO Kesmas Kementerian Kesehatan dr. Rima Damayanti, dan pegiat kesehatan dan resiliensi dr. Sri Kusuma Hartani. "Pengalaman kami dalam menilai ini memang dari 12 itu sangat sulit dan memang semuanya inovasi yang sangat baik sekali. Dengan adanya transformasi layanan kesehatan primer, semua layanan primer khususnya puskesmas itu memang dituntut untuk berinovasi," kata Rima. "Apalagi dengan kondisi pandemi COVID-19 saat ini, semua berpikir agar bagaimana masyarakat itu tetap dapat terlayani dan dapat ditingkatkan aksesnya. Dan untuk ketiga yang juara ini saya melihat bahwa inovasi yang disampaikan ini betul-betul melihat dari latar belakang permasalahan yang ada," ujarnya. Baca juga Pemprov Jawa Barat apresiasi CISDI bantu tangani COVID-19 Baca juga CISDI rayakan satu dekade program Pencerah Nusantara Baca juga AIPI dorong pemerintah transformasi layanan kesehatan primerPewarta Suci NurhalizaEditor Muhammad Yusuf COPYRIGHT © ANTARA 2022 Mengalami kesulitan membaca tulisan dokter pada secarik resep menjadikan Irma Melyani Puspitasari 32 yang saat itu menjadi apoteker bertekad membuat perubahan. Resep tidak harus identik dengan tulisan steno—atau acak-acakan—dari para dokter yang hanya bisa dibaca oleh segelintir orang. Pasien pun berhak tahu. Lulusan Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran Unpad ini juga beberapa kali memergoki obat-obat yang diresepkan ternyata memiliki potensi menyebabkan reaksi merugikan. Bentuknya bisa berupa interaksi ataupun duplikasi obat. Interaksi adalah efek samping yang diakibatkan reaksi kimia dari komponen obat yang berbeda. Adapun duplikasi obat terjadi saat komposisi yang sama diresepkan pada dua jenis obat yang berbeda, padahal tidak perlu. Irma meyakini, interaksi ataupun duplikasi yang berlangsung saat pembuatan resep bukanlah kesengajaan dari para dokter. ”Bayangkan saja, ada hingga item obat dalam satu rumah sakit besar. Tidak mungkin menghafal komposisinya satu-satu,” kata Irma yang ditemui di tempat kosnya di Bandung, Jawa Barat. Dua pengalaman itulah yang membuat dia tersadar bahwa resep elektronik adalah sebuah solusi yang harus dicapai. Menengok ke negara lain, ternyata tren serupa terjadi. Irma mencontohkan Amerika Serikat yang kini tengah mendorong para dokter untuk menggunakan resep elektronik yang kini jumlahnya mencapai sepertiga dari seluruh populasi. Sendiri Kesempatan itu muncul sewaktu dia mengambil pendidikan pascasarjana di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung 2007. Mengambil spesialisasi teknik biomedik di bawah bimbingan Profesor Soegijardjo Soegijoko, sejak awal Irma sudah mempersiapkan kerangka bagi aplikasi untuk membuat resep elektronik itu. Perombakan pertama yang dilakukan adalah perbaikan sistem administrasi rekam medis pasien di puskesmas. Menggunakan beberapa komputer yang tersambung secara intranet, efisiensi bisa dilakukan dari alur kerja petugas di puskesmas. Dengan pencatatan digital dan saling tersambung, tidak perlu lagi ada petugas yang mencari rekam medik, membawanya ke ruangan poli, dan mengembalikannya. Dengan teknologi yang sama, petugas tidak lagi harus membuat rekapitulasi bulanan karena hal tersebut bisa dilakukan dalam beberapa kali klik di mouse. Inti dari aplikasi tersebut adalah bagian resep. Irma memasukkan data untuk komposisi obat, indikasi serta kontraindikasi seorang diri yang dilakukannya sambil mengikuti kuliah. Jumlahnya mencapai 217 item. Dia juga memasukkan informasi mengenai peluang interaksi ataupun duplikasi dari berbagai referensi yang dimilikinya. Dengan aplikasi tersebut, seorang dokter tinggal memberi centang untuk gejala hingga obat yang diberikan berikut dosisnya. Aplikasi buatan Irma masih menyisakan kolom untuk diisi manual seperti anamnesis atau keluhan yang diutarakan pasien sebelum diperiksa, serta kolom untuk tindakan medis yang diambil. Begitu memasuki pembuatan resep, dokter akan mendapat pemberitahuan dari aplikasi bila obat yang diresepkannya berpotensi terjadi interaksi maupun duplikasi sehingga bisa diganti dengan yang lain. Dokter pun bisa tetap meresepkan meski harus mengisi kolom alasan. Menyahut ajakan Hampir rampung dengan aplikasi buatannya, tidak berarti masalah sudah selesai. Dia menghadapi gelombang penolakan dari calon penggunanya, yakni puskesmas. Salah satu alasan yang sering dilontarkan adalah keengganan untuk belajar komputer karena tidak semua petugas melek teknologi dan sudah nyaman dengan pencatatan konvensional. Alasan lain yang sering dihadapi adalah pendapat yang menyatakan bahwa resep haruslah berupa kertas. Pengertian umum resep adalah perintah yang ditulis dokter kepada apoteker untuk mengeluarkan obat. Pengertian tersebut juga dipakai dalam peraturan pemerintah. Isu tersebut dijawab Irma dengan argumen bahwa Indonesia telah memiliki Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik sehingga memungkinkan dokumen tidak harus berupa kertas, termasuk resep. Dari berbagai puskesmas tersebut, ternyata hanya satu yang bersedia mencoba aplikasi resep elektronik milik Irma, yaitu Puskesmas Babakan Sari di daerah Kiaracondong, Kota Bandung, Jawa Barat. Kepala Puskesmas saat itu, Dr Ira Dewi Jani, menyatakan ketertarikannya menerapkan resep elektronik di tempatnya. Ira beralasan, sebagian besar waktu para petugas di sana tercurahkan untuk menyelesaikan tugas administratif seperti mengantar rekam medis dan pembuatan laporan. Padahal, mereka punya kewajiban di lapangan seperti pembinaan di posyandu ataupun sekolah. Ira merasakan betul bahwa puskesmas masih dipandang sebelah mata sebagai pemberi akses kesehatan bagi masyarakat. ”Padahal, ada sekitar puskesmas di Indonesia dan 60 persen warga menengah ke bawah mendatangi puskesmas terlebih dahulu untuk berobat,” tutur Ira. Dengan kemauan keras, akhirnya petugas Puskesmas Babakan Sari belajar mengoperasikan komputer meski tidak mudah. Irma menyiasati hal tersebut dengan mengajari mereka menggunakan situs jejaring sosial Facebook. Dari sana, mereka dibiasakan untuk mencentang pilihan dan mengoperasikan komputer. Salah satu cerita yang kerap diutarakan adalah salah satu pegawai senior yang awalnya tidak bisa menyalakan komputer kini menjadi tenaga administrasi di ruang pendaftaran yang bisa diandalkan. Dalam waktu satu tahun, resep elektronik menunjukkan hasilnya. Administrasi di Puskesmas Babakan Sari jauh lebih ringkas dan memudahkan para petugas. Irma pun beberapa kali diundang mempresentasikan inovasinya dalam forum di luar negeri seperti di Bangkok, Thailand akhir 2009 dan di Luksemburg pada April 2011. Puskesmas Babakan Sari pun kerap dikunjungi tamu dari luar negeri seperti Filipina dan Pakistan untuk melihat kerja resep elektronik. Sayangnya, hingga kini Irma belum berkesempatan mereplikasi aplikasinya ke puskesmas ataupun rumah sakit lainnya. Padahal, aplikasi tersebut juga memiliki potensi lain, yakni mengumpulkan data yang berguna bagi perumusan kebijakan kesehatan nasional. ”Bila digunakan di banyak tempat, kita bisa memiliki data mengenai tren konsumsi obat maupun evaluasi dalam penanganan penyakit tertentu dengan pemberian obat,” kata Irma. Dia sendiri kemungkinan tidak bisa mengembangkan lagi aplikasinya karena Oktober 2011 akan berangkat ke Jepang untuk menuntut ilmu kedokteran. Hal tersebut dilakukan sebagai tuntutan dari pekerjaannya sekarang sebagai pengajar di Fakultas Farmasi Unpad. Irma Melyani Puspitasari • Lahir Cirebon, 1 Mei 1979 • Pendidikan – S1 Farmasi Unpad lulus 2002 – Pendidikan Profesi Farmasi Unpad lulus 2003 – Teknik Biomedik ITB lulus 2010 • Pekerjaan Staf Pengajar di Fakultas Farmasi Unpad 2006-sekarang Disadur dari kompas Enrekang, 3 April 2018, berlokasi di Hotel Sabindo, Dinas Kesehatan Enrekang dalam hal ini Seksi Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat menggelar pertemuan Evaluasi Program Promkes & Pemmas untuk triwulan Pertama ditahun 2018. Author Recent Posts Enrekang, 3 April 2018, berlokasi di Hotel Sabindo, Dinas Kesehatan Enrekang dalam hal ini Seksi Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat menggelar pertemuan Evaluasi Program Promkes & Pemmas untuk triwulan Pertama di Tahun 2018. Kegiatan ini dihadiri semua Petugas dan Pelaksana Promkes se Kab. Enrekang dengan jumlah peserta sebanyak 24 Orang. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi kegiatan Promosi kesehatan diTahun 2017 dan beberapa persamaan persepsi terkait Program Promkes, baik Pusat dan Daerah. Kegiatan ini dibuka langsung oleh PLH Kepala Dinas Kesehatan Enrekang, Sutrisno, AMG, SE. Dalam sambutannya Sutrisno, mengatakan ada 3 Aspek penting untuk menjaga Eksistensi Promkes di Puskesmas. Aspek Pertama adalah wajib hadirnya Inovasi yang berkelanjutan. Inovasi seyogyagnya adalah kegiatan yang hadirnya tidak boleh lahir dengan instan, syarat inovasi itu harus berdiri bergandengan dengan lintas sektor. Dukungan sektor lain di luar Dinas Kesehatan menjadikan inovasi menjadi kuat, serta tetap memperhatikan potensi regulasi yang mendukung akselerasi pembangaunan kesehatan, khususnya di wilayah Kecamatan masing – masing. Aspek Kedua yang perlu hadir bagi petugas Promkes di lapangan yaitu harus mampu mengetahui berbagai disiplin ilmu dalam dunia keprofesian kesehatan. Artinya harus senantiasa belajar dan mampu menjadi pembelajar kepada masyarakat sebagai solusi penguatan Germas di masyarakat. Aspek Ketiga adalah dukungan anggaran. Lelaki yang sering di panggil Puang Inno ini mengatakan, bahwa anggaran adalah kunci perwujudan kegiatan. Dukungan anggaran menjadi urgen dalam dunia Promkes, baik untuk membuat kegiatan serta media, penguatan SDM dan serta sarana dan prasarana pendukung, Beliau mengatakan bahwa kedepan harapannya Promkes memiliki armada edukasi modern yang multi fungsi yang dilengkapi dengan media, yang dapat hadir di setiap kecamatan yang mampu membantu memberikan Pelayanan Kesehatan khususnya pelayanan ke Promosi Kesehatan, yang dapat membantu membentuk karakter dan New Behavior atau perilaku sehat yang baru. Dalam pertemuan ini juga ada beberapa pesan dari Kepala Seksi dan Pemmas tentang Penguatan Desa Siaga, Kualitas Capaian PHBS dan Penguatan Posyandu Mandiri. Dan pada bulan Mei mendatang kita akan menggelar kampanye Germas ditiap- tiap kecamatan. Pada kegiatan ini juga dilakukan usaha sinkronisasi kegiatan dalam Anggran BOK terkait percepatan capaian – capaian kegiatan Promkes yang dilaporkan, seperti Penguatan Kebijakan Publik berwawasan kesehatan di skala kecamatan dan desa, Hadirnya kebijakan yang mendukung PHBS, Kemampuan berafiliasi advokasi dengan desa serta mencatat desa yang menggunakan anggarannya untuk kegiatan Kesehatan, Jumlah dunia usaha yang memanfaaatkan CSR-nya untuk program kesehatan, Jumlah Ormas yang mendukung memanfaatkan sumberdaya-nya untuk kesehatan, serta Penguatan Pesan Sosial Kesehatan, dan Penguatan Edukasi Masyarakat. Visited 6,481 times, 1 visits today

inovasi farmasi di puskesmas